Wae Lolos, Manggarai Barat — Sebuah desa di kawasan Pegunungan Mbeliling, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, kini mendapat perhatian dari layar internasional. Desa Wisata Wae Lolos menjadi salah satu lokasi yang disinggahi produksi Pékin Express musim ke-23, reality show petualangan populer asal Prancis.
Pada Jumat, 4 September 2026, tim produksi bersama para peserta tiba di Wae Lolos sebagai bagian dari rangkaian perjalanan mereka di Indonesia.
Kehadiran mereka membawa suasana yang berbeda. Kamera produksi berukuran besar berada di antara jalan kampung, bentang alam, dan aktivitas masyarakat. Bagi warga Wae Lolos, momen tersebut menjadi pengalaman baru sekaligus kesempatan untuk memperlihatkan sisi lain kehidupan desa kepada penonton internasional.
Wae Lolos memang memiliki lanskap yang kuat. Desa ini berada sekitar 32 kilometer dari Labuan Bajo dan dikenal dengan sejumlah air terjun, aliran sungai, serta kawasan perbukitan yang menjadi bagian dari Pegunungan Mbeliling.
Tetapi jika Wae Lolos hanya diperkenalkan melalui air terjunnya, maka sebagian besar ceritanya akan hilang.
Wae Lolos is not only about the waterfalls.
Sebuah Desa yang Dibangun dari Bawah
Jauh sebelum kru televisi internasional datang membawa kamera, masyarakat Wae Lolos telah lebih dahulu memperkenalkan potensi desanya.
Pariwisata di sini tumbuh secara bertahap melalui keterlibatan masyarakat. Mereka membuka dan merawat jalur menuju destinasi, mendampingi pengunjung, mengembangkan kemampuan pemandu, membangun tata kelola, sekaligus belajar bagaimana menjadikan potensi alam dan budaya sebagai sumber manfaat bagi desa.
Perjalanan itu tidak terjadi dalam waktu singkat.
Ada banyak pekerjaan yang tidak pernah masuk dalam kamera. Ada tenaga, waktu, biaya, dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang pada awalnya belum tentu memberikan hasil.
Karena itu, semakin dikenalnya Wae Lolos hari ini merupakan bagian dari perjalanan panjang masyarakatnya sendiri.
Kehadiran pemerintah, lembaga, dunia usaha, media, maupun berbagai mitra tentu dapat menjadi kekuatan tambahan dalam tahap berikutnya. Namun dukungan tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari perjalanan yang sudah dimulai, bukan sebagai titik awal lahirnya pariwisata Wae Lolos.
Ketika Pékin Express Datang
Bagi penonton, Pékin Express dikenal sebagai program perjalanan yang menempatkan para peserta dalam situasi yang tidak biasa. Mereka harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sumber daya terbatas, mencari tumpangan dan tempat bermalam sambil berinteraksi langsung dengan masyarakat yang mereka temui.
Konsep semacam ini membuat masyarakat lokal bukan sekadar latar belakang visual.
Mereka menjadi bagian dari perjalanan.
Pada musim ke-23, Indonesia menjadi salah satu bagian penting dari rute perjalanan Pékin Express. Perjalanan tersebut membawa peserta melintasi sejumlah wilayah di Flores, kemudian menuju Sumbawa, Lombok, dan Bali, sebelum perjalanan berakhir di Manila, Filipina.
Wae Lolos menjadi salah satu titik yang memberikan warna tersendiri dalam perjalanan tersebut.
Di sini, peserta tidak hanya berhadapan dengan bentang alam. Mereka juga berhadapan dengan jalan desa, masyarakat, aktivitas sehari-hari, serta karakter kehidupan lokal yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Itulah yang membuat kegiatan syuting ini menjadi lebih dari sekadar pengambilan gambar sebuah destinasi.
Bukan Sekadar Air Terjun
Kamera mungkin akan mengarahkan perhatian penonton kepada air terjun dan lanskap Wae Lolos.
Namun bagi masyarakat setempat, setiap tempat memiliki cerita yang lebih panjang.
Di balik sebuah jalur trekking ada orang-orang yang merawatnya.
Di balik sebuah destinasi ada pemandu yang menemani pengunjung.
Di balik sebuah desa wisata ada masyarakat yang mencoba membangun ekonomi dengan apa yang mereka miliki.
Dan di balik popularitas sebuah destinasi ada proses panjang yang sering kali tidak terlihat.
Karena itu, ketika Wae Lolos akhirnya masuk ke dalam perjalanan sebuah program televisi internasional seperti Pékin Express, yang sebenarnya sedang mendapat panggung bukan hanya alamnya.
Masyarakatnya juga sedang diperkenalkan.
Budaya, kehidupan sehari-hari, keramahan, aktivitas warga, serta cara masyarakat memperlakukan ruang hidupnya menjadi bagian dari cerita.
Momentum ini tentu diharapkan dapat membuka perhatian yang lebih luas terhadap Wae Lolos dan Manggarai Barat. Namun perhatian tersebut juga harus diikuti dengan tanggung jawab untuk menjaga apa yang membuat desa ini menarik sejak awal: alamnya, budayanya, dan masyarakatnya.
Sebab popularitas dapat datang dengan cepat.
Tetapi membangun sebuah destinasi membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Wae Lolos sudah menjalani proses itu.
Dan sekarang, ketika kamera internasional datang, masyarakat hanya ingin memastikan bahwa dunia tidak hanya melihat apa yang indah di Wae Lolos, tetapi juga mengenal siapa yang selama ini membangun dan menjaganya.
Wae Lolos is not only about the waterfalls.
It is about the people, the journey, and the story behind them.

