Ada orang-orang yang datang ke tengah bencana bukan karena mereka kehilangan rumah, bukan karena keluarganya menjadi korban, dan bukan pula karena mereka diwajibkan datang.
Mereka datang karena satu alasan sederhana: ingin menolong.
Di tengah kepanikan, reruntuhan, tangisan, dan ketidakpastian setelah gempa bumi mengguncang Flores, mereka memilih bergerak ketika sebagian orang memilih menyelamatkan diri.
Namun, Jumat, 21 Agustus 2026, kabar duka datang dari Manggarai Timur.
Seorang relawan Yayasan Gerak Bareng bernama Ahmad Zaki Ali, berasal dari Jakarta, dikabarkan meninggal dunia di Dampek, Manggarai Timur, ketika sedang menjalankan misi kemanusiaan membantu para korban gempa Flores.
Kabar kepergiannya menjadi duka mendalam bagi keluarga, rekan-rekan sesama relawan, dan mereka yang sempat merasakan langsung kehadirannya di tengah situasi sulit.
Ia datang ke Flores dengan satu tujuan: membantu.
Di tengah masyarakat yang sedang menghadapi kehilangan dan ketakutan, ia memilih hadir, bekerja, dan memberikan tenaganya untuk sesama.
Kini, ia justru menjadi bagian dari kisah duka di tanah yang sedang dibantunya.
Kepergiannya mengingatkan kita bahwa di balik setiap perjuangan kemanusiaan, ada manusia yang juga memiliki batas kekuatan. Ada tubuh yang bisa lelah, ada hati yang bisa rapuh, dan ada keluarga yang selalu menunggu kepulangan.
Karena itu, kisah seorang relawan yang gugur bukan hanya tentang bagaimana ia pergi, tetapi juga tentang mengapa ia memilih datang dan menolong ketika orang lain sedang membutuhkan pertolongan.
Mereka Datang Ketika Flores Sedang Berduka
Gempa bumi mengguncang wilayah Flores dan Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026.
Dampaknya terasa di sejumlah wilayah. Rumah-rumah rusak, aktivitas masyarakat terganggu, dan banyak orang harus menghadapi situasi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan mulai berdatangan.
Ada tenaga kesehatan. Ada aparat. Ada organisasi kemanusiaan. Ada pemerintah. Dan ada para relawan.
![]() |
| Ahmad Zaki Ali, Saat melakukan misi kemanusiaan, flores 2026 |
Mereka datang dari berbagai tempat dengan membawa apa yang mereka punya.
Ada yang membawa obat-obatan. Ada yang membawa makanan. Ada yang membantu evakuasi. Ada yang mendistribusikan logistik. Ada yang mendirikan pos pelayanan.
Ada pula yang hanya duduk bersama warga, mendengarkan cerita mereka dan memastikan bahwa para penyintas tidak merasa sendirian menghadapi bencana.
Kerja kemanusiaan sering kali tidak terlihat.
Tidak semuanya masuk kamera.
Tidak semuanya menjadi berita.
Tidak semuanya mendapatkan ucapan terima kasih.
Tetapi mereka tetap bekerja.
Relawan Juga Manusia
Kita sering melihat relawan sebagai orang-orang yang kuat.
Mereka mengenakan rompi, membawa perlengkapan, berjalan di jalan yang rusak, menembus daerah yang sulit dijangkau, dan membantu orang lain ketika keadaan belum sepenuhnya aman.
Namun, di balik semua itu, relawan tetaplah manusia.
Mereka bisa lelah.
Mereka bisa lapar.
Mereka bisa kurang tidur.
Mereka bisa mengalami tekanan fisik maupun psikologis.
Dan mereka juga membutuhkan perlindungan.
Kisah Ahmad Zaki Ali menjadi pengingat bahwa keselamatan relawan tidak boleh ditempatkan di urutan kedua setelah keselamatan korban.
Menolong korban memang penting. Tetapi relawan juga harus mendapatkan kesempatan untuk beristirahat, mendapatkan makanan dan air yang cukup, memperoleh dukungan kesehatan, serta bekerja dengan koordinasi dan sistem keselamatan yang baik.
Sebab, satu nyawa relawan juga merupakan satu nyawa manusia yang berharga.
Di Balik Niat Baik, Ada Risiko yang Harus Dihadapi
Menjadi relawan berarti bersedia hadir ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Mereka datang ke tempat yang mungkin belum aman, meninggalkan kenyamanan, keluarga, dan aktivitas masing-masing untuk membantu orang-orang yang sedang kehilangan.
Namun, niat baik tetap membutuhkan perlindungan.
Di tengah situasi bencana, seorang relawan bisa menghadapi banyak risiko. Jalan yang rusak, gempa susulan, cuaca, kelelahan, kurang tidur, keterbatasan makanan dan air, hingga tekanan psikologis adalah bagian dari tantangan yang harus dihadapi di lapangan.
Karena itu, keselamatan relawan seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap misi kemanusiaan.
Mereka bukan sekadar orang yang datang membawa bantuan.
Mereka adalah manusia yang juga harus dijaga.
Sebab setiap relawan yang berangkat ke lokasi bencana memiliki seseorang yang menunggunya pulang.
Ada keluarga yang berharap ia kembali.
Ada anak yang menunggu ayah atau ibunya.
Ada orang tua yang menanti kabar.
Ada sahabat yang berharap pertemuan berikutnya masih bisa terjadi.
Maka, ketika seorang relawan kehilangan nyawanya di tengah misi kemanusiaan, kita tidak hanya kehilangan seorang penolong.
Kita juga kehilangan seorang anak, seorang saudara, seorang sahabat, seorang ayah atau ibu bagi keluarganya.
Dan di situlah kita kembali memahami bahwa kerja kemanusiaan bukan pekerjaan tanpa risiko.
Karena itu, keberanian harus berjalan bersama kehati-hatian.
Semangat menolong harus berjalan bersama perlindungan.
Dan pengabdian harus berjalan bersama upaya untuk memastikan bahwa mereka yang datang membantu juga dapat kembali kepada keluarganya.
Flores dan Mereka yang Datang Membawa Kepedulian
Di tengah duka akibat gempa, Flores tidak berdiri sendirian.
Dari berbagai tempat, tangan-tangan kemanusiaan datang.
Ada yang membawa makanan dan air.
Ada yang membawa obat-obatan.
Ada yang membawa pakaian dan kebutuhan dasar.
Ada tenaga kesehatan yang datang memberikan pelayanan.
Ada relawan yang membantu mendistribusikan bantuan.
Ada pula masyarakat setempat yang membuka pintu rumah dan berbagi apa yang mereka miliki dengan sesama penyintas.
Bantuan itu mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi seseorang yang sedang kehilangan rumah, kehilangan harta benda, atau bahkan kehilangan anggota keluarga, sebuah paket makanan bisa berarti sangat besar.
Sebuah botol air bisa menjadi sangat berharga.
Sebuah tenda bisa menjadi tempat berlindung.
Dan kehadiran seorang relawan bisa menjadi pesan sederhana:
“Kalian tidak sendirian.”
Namun, di balik setiap bantuan yang sampai, ada perjalanan panjang yang sering tidak terlihat.
Ada orang yang mengangkatnya.
Ada yang mengemasnya.
Ada yang membawanya melewati perjalanan yang tidak mudah.
Ada yang mendistribusikannya dari satu tempat ke tempat lain.
Ada yang memastikan bantuan tersebut benar-benar sampai kepada orang yang membutuhkan.
Itulah sisi lain dari sebuah misi kemanusiaan.
Yang terlihat oleh masyarakat mungkin hanya bantuan yang tiba di tangan mereka.
Tetapi di balik bantuan tersebut ada banyak tangan yang bekerja, banyak langkah yang ditempuh, dan banyak orang yang rela meninggalkan kenyamanan demi memastikan orang lain mendapatkan pertolongan.
Dan di antara mereka, ada relawan yang mungkin tidak pernah kita kenal namanya.
Mereka datang tanpa banyak bicara.
Mereka bekerja tanpa meminta balasan.
Mereka membantu tanpa bertanya siapa yang akan mengingat mereka.
Hingga suatu hari, salah satu dari mereka justru tidak kembali.
Saat itulah kita sadar bahwa di balik kata “relawan”, ada manusia yang telah memberikan bagian dari hidupnya untuk orang lain.
Untuk Keluarga yang Menunggu
Di balik seorang relawan yang berangkat ke daerah bencana, selalu ada seseorang yang menunggu di rumah.
Ada orang tua.
Ada pasangan.
Ada anak.
Ada saudara.
Ada sahabat.
Mereka mungkin hanya bisa mengirim pesan sederhana:
"Hati-hati."
Atau:
"Jangan lupa istirahat."
Kalimat yang sederhana, tetapi di baliknya ada kecemasan yang tidak selalu terlihat.
Setiap kali telepon berdering, ada harapan bahwa kabar yang datang adalah kabar baik.
Karena itu, ketika seorang relawan tidak lagi pulang, yang kehilangan bukan hanya organisasi tempat ia bekerja.
Yang kehilangan adalah sebuah keluarga, sebuah lingkaran persahabatan, dan orang-orang yang pernah mengenalnya.
Jika kabar tentang Ahmad Zaki Ali menjadi catatan akhir dari perjalanan kemanusiaannya di Flores, maka duka itu tidak hanya milik mereka yang mengenalnya.
Duka itu juga menjadi bagian dari kisah masyarakat yang sedang dibantunya.
Barangkali ia datang ke Flores tanpa mengenal sebagian besar orang yang ditemuinya.
Namun, ia memilih membantu mereka.
Dan di situlah nilai kemanusiaan menemukan maknanya.
Jangan Biarkan Namanya Hilang Bersama Berita
Bencana selalu menghasilkan angka.
Jumlah korban.
Jumlah rumah rusak.
Jumlah pengungsi.
Jumlah bantuan.
Jumlah fasilitas yang hancur.
Tetapi di balik setiap angka selalu ada manusia.
Dan di balik seorang relawan yang meninggal, ada sebuah kehidupan yang pernah dijalani.
Ada keluarga.
Ada cita-cita.
Ada perjalanan.
Ada orang-orang yang mencintainya.
Karena itu, jangan biarkan seorang relawan hanya menjadi satu paragraf dalam berita.
Jangan biarkan pengorbanannya hanya menjadi foto yang beredar sehari, lalu dilupakan.
Jika benar ia kehilangan nyawa ketika menjalankan tugas kemanusiaan, maka masyarakat perlu mengingatnya bukan semata karena kematiannya.
Tetapi karena alasan mengapa ia datang ke Flores.
Ia datang untuk membantu.
Ia datang ketika orang lain sedang membutuhkan pertolongan.
Ia datang membawa kepedulian.
Dan mungkin itulah warisan terbesar seorang relawan: mengingatkan kita bahwa dalam situasi paling sulit sekalipun, masih ada manusia yang memilih untuk peduli kepada manusia lainnya.
Pulanglah dengan Selamat, Para Relawan
Kepada para relawan yang masih berada di Flores:
Teruslah membantu.
Teruslah hadir.
Tetapi jangan lupa menjaga diri.
Istirahatlah ketika tubuh meminta berhenti.
Makanlah ketika lapar.
Minumlah ketika haus.
Mintalah bantuan ketika tidak sanggup.
Dan jangan pernah menganggap keselamatan diri sebagai sesuatu yang tidak penting.
Flores membutuhkan kalian.
Tetapi Flores juga ingin kalian pulang dengan selamat.
Sebab kemanusiaan tidak membutuhkan lebih banyak korban.
Kemanusiaan membutuhkan lebih banyak orang yang selamat, sehat, dan mampu terus membantu.
Dan kepada mereka yang telah pergi ketika sedang menjalankan tugas kemanusiaan:
Selamat jalan.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.
Semoga pengorbanan yang telah diberikan tidak pernah sia-sia.
Dan semoga nama mereka yang datang ke Flores ketika tanah ini sedang berduka akan tetap dikenang.
Karena mereka datang bukan untuk mencari apa-apa.
Mereka datang untuk menolong.
Dan ketika seorang relawan tak lagi pulang, setidaknya kita tahu:
Ia pernah memilih berada di sisi orang-orang yang sedang membutuhkan.
Ia datang membawa kemanusiaan.
Dan Flores akan mengingatnya.
Catatan Redaksi: Artikel ini ditulis sebagai penghormatan terhadap relawan yang dikabarkan meninggal dalam menjalankan misi kemanusiaan di tengah penanganan bencana Flores. Informasi mengenai identitas, kronologi, dan penyebab kematian perlu mengikuti keterangan resmi dari pihak terkait. Redaksi akan melakukan pembaruan apabila terdapat informasi resmi lebih lanjut.

